Selasa, 25 Desember 2012

Yang Merah dan Sayur Rebung

Hari libur dunia tiba. Selamat bagi yang merayakannya. Nah, bagi saya sendiri, agenda libur adalah waktu ketika bisa bangun siang dengan dengkuran tidur kita. Yah, mumpung ada waktu untuk bangkong (bangun siang).
Selepas jam 8 tadi, istri saya bilang "aku mau belanja dulu ya, cari lauk". Serentak saja, keinginanku untuk tidur lebih lama langsung menyeruat keluar dan menjawab Obrolan yang dilontarkan istriku, "nggak usah. nanti aja". Hehehe, setengah jam berikutnya saya masih bergumul dalam selimut tebal.
Selepas itu, ada satu hal yang terlupakan ketika saya harus bangun siang. Ikan-ikan di kolam belakang masih belum sarapan. Biasanya mereka sudah menikmati sarapannya ketika pukul 7 tadi. Yah, karena keinginan untuk bangkong yang menggebu, akhirnya mereka sarapan agak siang. Maafkan saya ya...
Nah, ikan sudah makan, sekarang waktunya saya yang harus sarapan. Di meja hanya ada nasi saja. Di kulkas nggak ada lauk tempe atau pun tahu yang bisa digoreng, sementara istri saya masih sibuk mencuci. Mataku kemudian memandang pada satu arah di kulkas. Ada sayur rebung yang masih tersisa semenjak kemarin. Ada ide. Bagaimana kalau membuat nasi goreng campur sayur rebung. Sepertinya menarik nih.
Ternyata istriku juga setuju untuk membuat nasi goreng. Wal hasil, saya ambil semua bahan baku yang ada di kulkas, mulai dari bumbu merah, sayur rebung, sosis, kecap Inggris (yang penting bukan kunci Inggris ya...) dan daun kemangi kering. Semua adonan dikumpulkan jadi satu di dapur.
Api kompor dihidupkan. Sreeeng-sreeeng-sreeng... bunyi perpaduan bumbu-bumbu itu memenuhi dapur. Mulai dari menggoreng bumbu merah, kemudian mencampurkan sayur rebung. Setelah itu sosis digoreng juga, dan tak lupa beberapa lembar kemangi kering. Setelah aromanya keluar, baru giliran nasi untuk memenuhi isi wajan-nya. Berselang 15 menit, masakan sudah jadi.
Kalau si Farah Queen bilang, This is it. Nasi goreng sayur rebung ala keluarga Ebhi.
Gak tanggung-tanggung, istriku yang biasanya hanya makan nasi segenggam, pake menu ini dia makan bisa sampai sepiring. wuiiihhh...

Senin, 24 Desember 2012

Menggugat Mimpi

Baru saja saya pulang nonton bioskop bersama istri. 5 cm, itulah film yang disajikan tadi. Saya tertarik pada judul dan gambar di sebuah banner yang terpampang di halaman depan. 6 orang, bergandengan tangan sedang mendaki gunung. Awalnya saya mengira 5 cm itu adalah jarak antara hidup dan kematian ketika kita sedang berada di puncak gunung, tapi ketika film telah diputar saya tidak menebak dengan akurasi yang bagus.
Sebetulnya film "5 cm" ini merupakan sebuah adaptasi dari sebuah novel yang ditulis oleh Donny Dhirgantoro. Hnaya saja, saya masih belum sempat membaca novel itu. Alih-alih membaca novel, saya akhirnya pergi ke gedung bioskop untuk melihat visualisasi yang di imajinasikan si sutradara terhadap novel "5 cm".
Masuk ke gedung bioskop (ini gedung bioskop satu-satunya di Jember yang hingga saat ini masih beroperasi) saya dan istri saya duduk di bangku C11 dan C12. Tempat yang cukup strategis untuk menonton film layar lebar. Tidak terlalu dekat, dan kepala tidak harus terus mendongak. Hampir mirip VIP lah. Setelah semua iklan ditampilkan, akhirnya film itu dimulai juga.
Sekitar 2 jam lebih sedikit, film itu berakhir dengan kebahagiaan di mana-mana. Arial, si cowok ganteng yang pemalu dan belum pernah pacaran akhirnya mendahului teman-temannya untuk menikah. Kemudian si cowok picisan, Zafran, akhirnya menikahi Riani, karena ia sadar bahwa Riani sebetulnya seorang bidadari yang selalu bisa hadir di sisinya. Ian si Gendut yang selalu suka makan mie, juga akhirnya menikah dengan Happy. Hanya satu orang saja dari kelima sahabat ini yang belum mengakhiri masa lajangnya. Genta, cowok keren yang menjadi otak dari kelompok sahabat ini, karena cinta tak sampainya pada Riani, lebih memilih untuk melanjutkan karirnya dan membuat kantor yang juga memiliki sebuah kafe yang akan membuat dia ngantor serasa nongkrong. Tak berhenti sampai disitu saja, supaya penonton tidak pada kecewa, pada akhir cerita film ini, antara Genta dan Arinda (adik Arial) mulai ada semacam bumbu-bumbu perhatian dan sayang. Yang penting, semua bisa bahagia.
Yah, dilihat dari keseluruhan film, yang coba ditekankan di sini adalah cerita mengenai pertemanan, cinta dan keajaiban mimpi (walaupun sering kali kata-kata mario teguh itu sangat berat untuk di lakukan dan akhirnya menjadi sesuatu yang mustahil). Tetapi terasa ada yang mengganjal ketika menonton film "5cm". Bagaimana tidak, alur dan konflik yang dibangun oleh film ini terasa sangat datar dan tidak memiiliki greget. Rasa-rasanya film itu seperti sebuah dokumentasi beberapa orang sahabat yang sedang naik gunung dan sampe di puncak dengan selamat karena mereka memiliki tekad yang kuat. Dan rasa-rasanya film ini masih terlalu sarat dengan tema-tema sinetronnya dan kebiasaannya untuk ber-lebay-ria.
Banyak film lain yang juga menampilkan ending yang bahagia, tetapi kenapa pada film ini ruh itu terasa belum sampai? Apa hanya karena film ini terlalu bersifat mendokumentasikan keseharian tanpa mempertimbangkan rising conflict? itu menjadi salah satu masalahnya. Masalah kedua adalah bagaimana cara film ini dalam membangun konflik dan mencari solusinya.
Semuanya masih terlihat terlalu bersifat permukaan, dari pengenalan konflik hingga solusi yang diciptakan untuk memecahkan konflik. Pertama coba kita amati cerita si Ian yang sedang menghadapi kesulitan untuk mengumpulkan quisioner demi menyelesaikan tugas akhirnya. Saya beranggapan point ini bisa menjadi sangat penting(supaya menjadi contoh bagi mahasiswa lainnya). Ketika beberapa kali Ian meminta beberapa perusahaan untuk mengisi form quisioner yang dia buat, dia selalu ditolak. Yang lebih sinetron lagi nih, ketika si Ian datang ke sebuah perusahaan untuk mengambil form quisionernya, dia mendengar si bos bilang ke salah satu pegawai di perusahaan itu "Kalau mahasiswa gendut itu datang lagi kesini, bilang saja kita nggak bisa bantu. Malas saya mengerjakan hal yang tidak ada uangnya." Yah, perasaan si Ian langsung hancur deh. Lagian, ngapain si bos datang ke bagian resepsionis cuma untuk bilang kayak gitu. Kan sudah ada telepon yang langsung tersambung ke bagian resepsionis...
Kemudian Ian pergi ke perusahaan lain. tapi sayangnya, yang dia temukan adalah hal yang sama. Penolakan. Kalau namanya berjuang demi mimpi, dia pasti akan terus berusaha. Ngobrol langsung sama bosnya kek, dan memberikan presentasi bagus yang memberikan keuntungan juga buat perusahaan. Sayangnya, perjuangan si Ian hanya sampai pada perjuangan mengetik skripsi saja. Untuk pengisian quisioner, dia dibantu oleh yang namanya keajaiban keberuntungan.

Coba kita amati ketika si Ian pulang dari kantor tempat dia memberikan quisioner yang kemudian ditolak, Ian, secara tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang sedang mereparasi mobilnya(Ban mobil tepatnya) yang kebetulan juga mobil si Ian berada di sebelah mobil orang itu. Orang asing itu meminta pinjaman dongkrak pada Ian. Dia menggunakan kemeja dengan setelan parlente. Nah, setelah dipinjami dongkrak oleh Ian, secara kebetulan juga orang ini mampu membantu kesulitan yang dihadapi si Ian. Di sini saya sudah bisa menebak jika orang ini yang akan membantu Ian untuk menyelesaikan Quisionernya. Lah kan, lebay-nya sudah ketahuan dari sini...
Sedangkan karakter lain dalam film ini tidak digambarkan sedang menggapai impiannya. Yang menjadi visualisasi dalam pencapaian apa yang diinginkan, hanya diwakili oleh 2 karakter, yaitu si Ian yang sudah kita bahas, yang kedua adalah si Arial.
Sebetulnya maksud arial datang ke gym adalah untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Hanya karena Arial terlalu pemalu dan mudah gugup, akhirnya dia tidak pernah mendapatkan seorang pacar. Dengan tekadnya yang membara dan semangat '45, akhirnya dia mampu berbicara di depan seorang cewek dan mengajaknya berkenalan (walaupun dengan keringat dingin yang bercucuran).



Adaptasi yang dikerjakan oleh Rizal Mantovani sebagai sutradaranya masih kurang menegaskan mengenai pengejaran mimpi-mimpi dan perjuangan untuk mencapainya. Yang dilihat pada film ini adalah cerita singkat mengenai pertemanan ,pendakian gunung dan selebihnya mengenai cinta-cinta-an. Pem-visualisasian dari cerita pendakian-nya pun masih terkesan melebih-lebihkan. Memang benar bila pendakian ke Mahameru akan menempuh bahaya, tetapi bahaya yang diciptakan disini masih terlalu memaksa dan terkesan dibuat-buat supaya ada suasana yang mencekam. Mimik yang di-ekspresikan oleh para aktor ketika terjadi kecelakaan pun masih kurang mengena. Bagaimana perasaan si Genta yang menjadi pencetus ide untuk mendaki ketika tahu apa yang dia rencanakan berujung pada kehilangannya nyawa seorang teman? Sama sekali datar...
Apalagi aktor 2 aktor cewek yang berperan disitu, sangat terlihat sekali mereka takut menangis histeris (mungkin karena mereka takut untuk terlihat jelek ya? alias ja'im). Mereka berdua terlihat seperti bintang iklan yang harus terlihat selalu sempurna.
Terlepas dari itu semua, hal mengejar mimpi adalah hal mutlak yang dibicarakan oleh setiap orang yang bernafas. Berbicara tentang mimpi, juga, saya pernah mendengar slentingan menarik dari salah seorang guru besar, "beda antara mimpi dan kenyataan terletak pada seberapa besar kamu berusaha untuk mencapainya". Nah, sekarang seberapa besar kamu berusaha untuk itu?
Mimpi adalah untuk digugat menjadi sebuah kenyataan, bukan dikejar dalam bayang-bayang...
semoga saya tidak terlalu sering terbuai dalam mimpi...
Amin