Jumat, 02 September 2011

Nafsu

Bila datang yang satu, yang satu pergi mencari yang Dua
Bila datang yang dua bersama deretan janji lupa, yang satu pergi mencari yang tiga
Datang yang tiga bersama sepotong daging, yang satu pergi mencari yang empat
Yang empat datang dengan bergalon air, pergi lagi yang satu mencari yang lima
Saat yang lima datang memenuhi waktu, yang satu pergi meminta yang satu.

Rabu, 31 Agustus 2011

Saat Mudik Tiba

Kehidupan saya di rumah diwarnai oleh beberapa keponakan saya yang masih kecil. Mereka sungguh lucu, paling tidak menurut saya. Ada empat anak semuanya. Mereka adalah anak dari kakak perempuan saya. Pada momen lebaran kali ini, jumlah keponakan saya bertambah. Kakak kandung laki-laki saya yang tinggal di luar kota menyempatkan diri untuk ber-hari raya di Jember. Sekarang saya memiliki lima orang keponakan dan semuanya laki-laki. Yang paling besar bernama Ken Anda Saka Wijaya. Anaknya sedikit pemarah dan otoriter terhadap adik-adiknya. Tetapi rasa sayangnya tetap tidak terkalahkan. Yang nomer dua bernama Ken Fahat Thariq. Biasa dipanggil Wawat. Anaknya aktif dan penyayang. Hanya saja saat ini berdiam diri tanpa bicara adalah salah satu kebiasaannya. Bintang Lazuardi Gumilang adalah yang nomer tiga. Biasa dipanggil Bintang. Anak ini cukup cerewet dan usil. Seringkali juga mengajukan pertanyaan yang terkadang membuat saya sulit menjawabnya. Keempat bernama Prabuwangi Jelang Ramadhan, biasa dipanggil Prabu. Dia lahir sepekan menjelang bulan Ramadhan pada 4 tahun lalu. Yang terakhir dan yang paling kecil adalah Ghanendra Hasya Widharma. Dia dipanggil dengan nama Ghana. Anak yang sangat aktif dan pintar.

Setelah seharian tadi kami semua berkeliling ke rumah saudara, pada malam ini keluarga kakak perempuan saya berangkat menuju rumah kakek neneknya yang berada di kota Madiun. Tepat pukul 00.10 tadi mobil itu meninggalkan asapnya di depan pintu pagar. Keempat keponakan saya masih dalam keadaan tertidur ketika mereka semua dipindahkan ke dalam mobil. Sedangkan saya sendiri kebagian untuk menggotong si Wawat.

Semua telah dipersiapkan untuk keberangkatan ini. Untuk menjaga kenyamanan anak-anak yang sedang tertidur, kakak saya juga membawa beberapa bantal, guling beserta selimutnya. Tiga anak duduk dan tertidur di kursi tengah sedang si Prabu duduk bersama Bunda-nya di kursi depan. Jajanan juga telah mereka persiapkan untuk bekal anak-anak kecil.

Kedua orang tua saya menyalami mereka (Kakak perempuanku dan suami). Mereka memberi nasehat-nasehat yang biasanya disampaikan oleh orang kebanyakan kepada anaknya yang hendak bepergian.

Kalau mengantuk berhenti dan istirahat. Jangan lupa si kecil di periksa setiap waktu. Berdoalah sepanjang jalan supaya sampai dengan selamat. Dan beberapa nasehat lainnya. (Apa orang tuaku masih belum mempercayai ke-dewasa-an mereka ya? hehehe)

Setelah lampu mobil itu tandas di tikungan, tiba2 saja ada sebuah perasaan yang aneh dalam diri saya. Entah perasaan apa itu saya sendiri tak bisa mendefinisikannya. Ketika pintu pagar ditutup dan kami, yang mengantarkan kepergian keluarga kakak perempuanku, masuk rumah perasaan saya mulai bergetar lebih kencang. Apakah rasa perpisahan selalu seperti ini?

Hahaha, mungkin saja perasaan itu muncul karena saya sudah terbiasa hidup dengan mereka. Setiap hari selalu mendengar celoteh kecil mereka. Terbangun pada jam 10 karena ributnya suara keponakan yang sedang berebut mainan, atau mendengar suara tangis yang diikuti jeritannya. Hal itu sudah menjadi sesuatu yang menyatu dalam keseharian saya selama ini.

Mereka tak akan pergi lama, rencananya. Jadi saya masih bisa menguatkan diri menahan perasaan-perasaan cengeng itu supaya tidak menyeruak keluar dan bermunculan sebagai air mata. Saya hanya bisa menurutkan doa kepada mereka supaya dapat selamat sampai tujuan dan kembali dalam keadaan tak kurang apapun (kalo bisa sih bertambah... hwehehhe).

Saya rasa, semua orang yang ditinggalkan oleh yang sedang bermudik akan mengalami sebuah lompatan perasaan. Tak hanya saya saja. Apapun itu, marilah kita berdoa bagi semua orang yang sedang bermudik ke kampung halaman.


Selasa, 30 Agustus 2011

Tentang Hari Besar

Salam, itulah yang akan saya ucapkan pertama-kali sebelum memulai menulis tulisan ini. Sebuah salam hangat dari saya, sebuah salam yang penuh dengan cinta, sebuah salam dengan doa, sebuah salam dengan permohonan maaf atas apa yang telah saya utarakan ataupun apa yang akan saya utarakan. Memohon pengertian para pembaca untuk memberi sebuah kiat bagi saya yang berkeinginan untuk menulis. Memohon pengertian kepada para pembaca untuk tidak habis-habisnya mengkritik apa yang saya tulis dan tulisan itu sendiri.

Mungkin apa yang akan saya tuliskan kali ini tidaklah terlalu penting, karena saya rasa para pembaca telah mengetahui lebih dari pada saya. Tetapi tidak ada salahnya bukan jika saya berbagi apa yang saya pikirkan dalam tulisan kali ini? Bukankah berbagi itu merupakan hal yang indah? Itu menurut saya sebagai seorang yang sangat jauh dari kesempurnaan. Mohon sekali lagi dimaafkan.

Baiklah. Akan saya mulai perlahan-lahan sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Tetapi, sekali lagi saya mohon maaf karena saya bukan seorang yang pandai dalam meruntutkan tulisan. Bahkan untuk menulis itu sendiri saya masih baru saja belajar bagaimana caranya. Ini masih sebuah permulaan dalam menulis bagi saya.

Tentang Hari Besar Agama
Tentunya semua telah mengetahui hari besar agama yang terdekat kali ini. Yang akan di rayakan oleh Umat Islam di seluruh dunia. Hari besar yang telah ditunggu kedatangannya setelah setahun berlalu. Hari yang membawa keberkahan dan kembali pada 'fitrah' sebagai manusia. Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan hari besar ini tidak dilakukan secara bersamaan oleh umat Muslim.

Ketika saya menonton salah satu acara di sebuah stasiun televisi, disiarkan bahwa Pemerintah menyepakati Hari Raya Idul Fitri akan jatuh pada hari rabu tanggal 31 Agustus 2011. Kesepakatan itu diambil melalui jalan musyawarah. Sebelum mengambil kesepakatan tersebut, para pemuka agama Islam di Indonesia dan juga beberapa negara asia tenggara lainnya berkumpul. Mereka melakukan pengamatan terhadap penghitungan bulan baru yang dilakukan oleh beberapa peneliti astronomi dan astrologi. Dari sekian banyak penghitungan, ada dua peneliti yang dapat melihat bulan baru jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011. Sedangkan sebagian besar peneliti lainnya masih belum dapat memastikan jatuhnya bulan baru.

Dari penelitian yang telah dilakukan tersebut, saya mendengarkan pemimpin sidang penetapan hari raya memutuskan bahwa jatuhnya 1 syawal 1432 H bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 2011. Semua yang hadir ikut menyetujui kesepakatan tersebut. Tepat pada pukul 18.30, pengumuman tersebut disiarkan ke seluruh masyarakat Indonesia melalui stasiun televisi, dan diikuti oleh media lainnya.

Apa yang saya lihat sungguh mengejutkan. Ternyata di beberapa tempat, ketika saya keluar dari rumah menuju Alun-Alun kota, telah mempersiapkan diri untuk bertakbir mengumandangkan penyambutan bagi Hari Raya Idul Fitri. Tetapi beberapa saat kemudian semuanya berhenti mendengar kabar bahwa Idul Fitri diundur hingga tanggal 31 Agustus. Mungkin ada beberapa dari mereka yang merasa kecewa. Mereka telah merelakan waktu untuk menge-set truk dengan serangkaian pengeras suara dan tabuh-tabuhan, tetapi kemudian harus kembali ke rumah karena pemberitaan itu.

Beberapa golongan lain memiliki pandangan yang berbeda. Entah sejak kapan golongan-golongan ini ada. Ada beberapa golongan yang telah melaksanakan shalat Ied pada hari senin 29 Agustus 2011. Ada juga yang tetap berpegang teguh pada penghitungannya dan melaksanakan shalat Ied pada tanggal 30 Agustus. Dan pemerintah tetap pada keputusan yang telah dibuat bersama, yaitu melaksanakan shalat Ied tanggal 31 Agustus.

Semua golongan berpegang teguh pada pendirian masing-masing dan mereka juga memiliki cara untuk menghitung jatuhnya bulan baru. Entah ini sebuah kekayaan yang dimiliki oleh suatu agama ataukah yang lainnya. Tetapi menurut saya yang memang masih bau kencur dalam hal agama, sebaiknya melaksanakan Hari Raya Besar Agama dengan serentak sesuai dengan waktu yang berlaku di masing-masing tempat, dan itu (sekali lagi menurut saya pribadi) akan lebih indah.

Bukankah agama ini bersumber dari dan pada satu keyakinan?
Mohon maafkanlah saya yang masih belum tahu apa-apa ini.

Baru saja saya juga mendengar sebuah pernyataan tentang hal tersebut, 'tak usah diperdebatkan mengenai perbedaan hari raya. Mereka punya 'Imam' sendiri dan punya perhitungan sendiri'. Mungkin itu adalah sebuah kalimat yang bijak dari orang yang saya kenal tersebut. Jika agama adalah 'Imam', apakah nanti juga akan ada agama lain yang lahir ketika para 'Imam' semakin banyak?
Entahlah, mungkin saya sebagai orang yang masih bodoh tak pantas membicarakan hal ini.

Sekarang, semakin banyak pilihan yang disuguhkan pada kita sebagai umat yang beragama. Pilihan tentang cara beragama yang ideal, yang mungkin juga akan berbeda pada setiap golongan. Seperti halnya kita diminta untuk memasuki satu pintu diantara seratus, manakah yang akan kita pilih?
Sekali lagi, saya yang masih juga tak tahu apa-apa ini mohon maaf. Saya sekedar menuliskan apa yang saya lihat dan yang saya rasakan. Tak ada niat lain.

Semoga saja, hari besar pada tahun mendatang akan dilaksanakan secara serentak, walaupun perbedaan sendiri itu indah.

Pembaca yang budiman, saya, seorang yang tak tahu diuntung ini, mohon maaf atas segala kesalahan yang ada pada tulisan ini. Jika berkenan, sudilah anda untuk sekedar mengkritik ataupun mencacinya.

Salam.
Ini adalah kata terakhir yang akan saya tuliskan sebagai penutup. Salam dengan penuh hangat akan doa, dan permohonan maaf.
Salam.

Yang di Lupakan

haha, baju baru
haha, celana baru
haha, sandal baru
haha, sepeda baru
haha, cat rumah baru
baru saja meninggal
karena lapar

Lebaran

Para pemudik memadati jalanan
diatas pemeriah pesta dan kembang api,
masih aku memandang sepi
masih,
belum kembali.

(para penghuni kolong jembatan di kota-kota besar)

Ber-Lebaran

Pada penghujung bulan Ramadhan ini, umat 'Islam' akan memasuki bulan Syawal. Dimana pada awal bulan merupakan suatu momen yang telah ditunggu-tunggu kedatangannya. Hari Raya Idul Fitri, yang jatuhnya pada tanggal 1 Syawal. Sebuah perayaan terhadap 'kemenangan'.
Setelah satu bulan penuh, pada bulan Ramadhan, kita berpuasa dengan niat untuk menahan lapar dan menahan hawa nafsu, Idul Fitri merupakan perayaan atas kemenangan tersebut. Kemenangan atas perang terhadap diri sendiri.
Di Indonesia, tradisi Idul Fitri cukup berbeda dengan di negara lain yang juga terdapat pemeluk Islam. Jika di negara-negara timur tengah tradisi Idul Fitri cukup dengan berjabat tangan secara sporadis, maka tidak halnya di Indonesia. Tradisi 'halal bihalal' menjadi bagian penting dalam mengisi hari raya ini. Silaturahmi ke rumah para tetangga, saudara, dan teman akan menjadi pengisi kemenangan.
Tidak hanya itu. Memakai baju baru ketika momen ini juga menjadi salah satu item yang hampir tak bisa dihindarkan. Karenanya, ketika menjelang 1 syawal, umat Islam di Indonesia, khususnya mereka yang mampu, akan pergi ke pusat perbelanjaan untuk berburu pakaian. Tak ayal lagi, seminggu menjelang hari raya Idul Fitri, hampir di semua tempat perbelanjaan akan disesaki oleh para pembeli yang datang dari kalangan muda hingga dewasa, dari golongan kurang mampu hingga yang diatas rata-rata. Semua datang dengan keinginan yang sama. Demi baju baru ketika ber-lebaran.
Bak 'pucuk dicinta, ulam pun tiba', para pemilik modal pun beramai-ramai memberikan penawaran-penawaran yang dapat menarik pembeli. Mulai dari Diskon harga hingga pemberian kupon setiap pembelian mencapai harga tertentu. Jelas saja masyarakat awam tak akan melepaskan kesempatan emas untuk mendapat diskon dan kupon.
Tak hanya pe-bisnis pakaian yang mendapat untung pada momen menjelang Lebaran ini. Penjual jasa perawatan kulit ataupun penjual jasa pangkas rambut juga memetik hasil yang lumayan besar dari biasanya. Seperti yang saya lihat ketika berkeliling kota Jember. Beberapa tempat penjual jasa pangkas rambut selalu ramai dengan pelanggan melebihi hari biasanya. Bahkan petugas parkir juga mendapat uang tambahan dari penuhnya pelanggan. Di salon juga banyak wanita yang merawat kulitnya. Tak segan-segan mereka mengeluarkan biaya mulai dari seratus ribu hingga berjuta rupiah. Semua mereka lakukan demi penampilan baru saat memasuki Lebaran.
Jejaring usaha yang dibangun pada awal Ramadhan mencapai puncaknya menjelang hari raya. Semua lapisan pun ikut mencicipi rezeki yang melimpah dari datangnya Idul Fitri. Jejaring Pasar yang akan bertahan lama dan sangat besar. Sedangkan masyarakat adalah pasarnya.

Tradisi semacam ini hanya hidup dan berkembang di Indonesia. Mulai dari acara bermaaf-maafan hingga mudik ke kampung halaman. Mulai dari membuat jajanan untuk suguhan hingga tradisi membuat ketupat.
Salah satu yang mendorong kita untuk mudik ke kampung halaman adalah sungkem kepada kedua orang tua kita. Sungkem juga merupakan tradisi yang hidup di Jawa pada mulanya, kemudian mengakar ke seluruh Indonesia. Sungkem menurut sebagian orang merupakan sebuah perwujudan dari sikap menghormati orang yang lebih tua, dalam hal ini ayah dan ibu(bisa jadi pula kakek dan nenek). Tradisi sungkem pada saat Lebaran juga sebuah tindakan untuk memohon maaf, di mana dalam istilah Jawa disebut 'nyuwun ngapura'. Istilah itu pun dari beberapa anggapan orang juga merupakan serapan dari bahasa Arab yaitu 'ghafura'.
Saling memaafkan antara satu dan yang lain sebetulnya tidak harus dilakukan pada saat Idul Fitri saja. Tetapi kemudian, tradisi sungkem dan halal bi halal dengan tujuan bermaafan ini menjadi suatu momen yang identik dengan Idul Fitri.

Idul Fitri merupakan saat dimana manusia kembali suci. Kembali kepada fitrahnya. Kepada asal keadaannya. Dimana untuk memasuki pintu fitrah itu, kita (yang mampu) diwajibkan untuk membayarkan zakat pada orang-orang yang belum mampu. Disebut dengan zakat fitrah yang diberikan maksimal sebelum shalat Ied berkahir. Zakat fitrah merupakan salah satu nilai kemanusiaan yang ditunjukkan dan diajarkan pada fase menuju kesucian manusia.
Dengan zakat ini, mereka yang belum mampu akan turut merasakan nikmatnya Idul Fitri tanpa harus kekurangan makanan. Mereka akan turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan orang lain.

Dalam segala konsepnya, kembali kepada fitrahnya menurut saya adalah kembali menjadi manusia dengan sifat kemanusiaan-nya. Seperti pelajaran PPKn yang didapatkan ketika menginjak bangku SMP. Tenggang rasa, saling membantu, saling memaafkan, dan sifat lain yang membuat kita menjadi manusia seutuhnya dimata Tuhan.
Kembali pada fitrah, merupakan sebuah kritik pada diri kita masing-masing. Bahwasanya manusia menjadi seorang manusia dengan cara memanusiakan manusia lainnya. Setidaknya, itu adalah nilai humanisme yang dapat saya petik dari sebuah momen yang bertajuk 'Idul Fitri'. Saling perduli, saling berbagi, saling memaafkan.

Senin, 15 Agustus 2011

Membangun Sebuah Rumah

Seorang anak kecil sedang belajar bagaimana cara membuat sebuah rumah mainan yang terbuat dari stick es krim. Dia mengotak-atik stik tersebut hingga keringatnya bercucuran. Kemudian ayahnya datang dan menemaninya bermain.
"Sebelum kau mencoba membuat sebuah rumah dari stick itu, coba bayangkan dulu rumah seperti apakah yang kau inginkan." si ayah berkata.
"Aku mau membuat seperti yang ayah buat." kata si anak menimpali.
"Kalau begitu, ambil rumah mainan yang ayah buat, kemudian bongkarlah satu persatu stick itu. Setelah itu, kenali bagian masing-masing. Tak perlu terburu-buru menginginkan sebuah rumah seperti yang ayah buat."
"Kenapa begitu, ayah?"
"Jika kau paham apa yang membuat rumah itu berdiri dan apa-apa yang berada di balik itu semua, ayah yakin kau akan bisa membuat rumah yang lebih baik.

Sri; Aku Tinggal

"Sri, besok aku kembali ke rumah. Pekerjaan kuli bangunanku sudah selesai. Aku akan melanjutkan menggarap sawah di desa. Kau tak mau ikut denganku?"
Kata-kata Kardi membuyarkan lamunan Sri yang sedari tadi masih melipat dirinya di atas kasur. Dengan sedikit menoleh ia menatap Kardi yang berbenah dengan pakaiannya. Dia melamun lagi.
"Pulanglah sendiri." Sri menjawab dengan datar tawaran Kardi.
Tak ada angin sepoi-sepoi yang akan membawa Sri jauh ke alam mimpi di ruang itu. Hanya ada Kardi dan seperangkat kasur dan cermin.
"Sri, aku tak pernah menyangka kau akan bertingkah seliar ini. Yang aku tahu, dulu kau adalah anak yang pemalu dan sangat setia."
"Ya, sejak kau tinggalkan aku dalam keadaan hamil, dan kau nikahi janda itu."

Kamis, 11 Agustus 2011

Kopi Pahit (tanpa gula)

"Day, kenapa kau selalu menyukai kopi pahit?"
"Kenapa kau bertanya hal itu?"
"Menurutku, kau terlalu jauh dari yang umum ada di masyarakat."
"Ah, tidak juga. Lantas, kenapa kau menyukai segelas teh hangat tanpa gula?"
"Karena aku bisa merasakan nikmatnya teh tanpa harus merasakan manisnya gula."
"Hahaha... Sama halnya denganku. Rasa asli dari kopi itu akan bisa kurasakan jika diramu tanpa gula."
Mereka berdua tertawa bersama. Kedai itu menjadi riuh oleh suara mereka. Sebuah tembang dari grup band ibukota mengalun lirih di telinga mereka. ' join... join... kopi...'
Sesaat kemudian Dayat kembali menggumam.
"Aku menikmati asam dan pahitnya kopi ini layaknya aku belajar untuk juga menikmati asam dan pahitnya hidup yang kujalani. Bukankah dengan begitu kita bisa menjalani hidup dengan sebenarnya menjadi manusia, Galih?"
"Ya, kurasa."

Senin, 08 Agustus 2011

Warisan

Dua orang sedang saling berselisih di pinggir jalan. Mereka berdua saling berteriak dan mengumpat. Karena kegaduhan itu, akhirnya beberapa orang juga terpancing untuk ikut menyelesaikan perkara tersebut. Semakin lama semakin banyak orang yang berkumpul, akhirnya jalanan pun macet. Sepeda pancal berhenti. Sepeda motor mematikan mesin. Mobil-mobil juga menempati kerumunan.
Percekcokan antara dua orang tadi masih juga belum selesai. Malahan sebaliknya. Mereka berdua semakin sengit. Wajah mereka berdua memerah, ditambah dengan panasnya terik matahri siang itu. Demi selesainya permasalahan ini, orang-orang yang berkumpul disana membawa mereka berdua ke pengadilan. Mereka percaya, pengadilan mampu menyelesaikan masalah dengan seadil-adilnya (paling tidak ukuran manusia).
Sesampainya di depan Hakim, percekcokan dua orang tadi terhenti, dan hakim bertanya.
"Siapakah diantara kalian yang melakukan kesalahan?"
"Dia!" mereka berdua berteriak dengan spontan. Si Hakim pun mengulang pertanyaan kedua.
"Diantara kalian berdua, siapa yang merasa paling benar?"
"Saya!" mereka berdua kembali menjawab pertanyaan Hakim dengan sigap. Si Hakim hanya manggut-manggut sambil mngernyitkan dahinya. Kemudian dia bertanya lagi.
"Apa kalian mau disalahkan?"
"Tidak!"
"Apa permasalahan kalian?"
"Saya membenci dia karena dia membenci saya." jawab mereka bersamaan
"Kenapa kalian saling membenci?" tanya sang Hakim.
"Saya lupa."

Manusia Biasa

Jika ada yang membutuhkan bantuanku, aku pasti akan datang tanpa harus diundang. Sesegera mungkin pertolonganku datang dan tak perlu kau menimbang. Aku hanya butuh 'sejenak' untuk tahu dimana tempatku berada dan dimana kau berdiri. Tak perlu waktu lama, kau akan melihatku mengenakan baju kebesaranku berdiri di hadapanmu.
Tak perlu kau ketahui namaku. Sebut saja aku 'sang Penolong'. Aku berjiwa besar. Aku juga tak butuh surat kabar, radio, maupun televisi untuk membicarakan namaku. Aku hanya butuh untuk menjadi diriku sendiri. Sang penolong.
Tujuanku adalah menciptakan kedamaian di bumi. Menegakkan keadilan, dan memberantas kejahatan. Aku adalah pembela kaum lemah.
Setiap malam, aku terbang mengitari bumi. Mencari-cari, adakah orang yang membutuhkan pertolonganku. Aku tak pernah tidur. Aku bisa mendengarkan bisikan, bahkan kata hati setiap orang. Aku juga bisa membuat orang berubah. Hampir tak ada yang tak bisa kulakukan.
Aku tak butuh apa-apa. Aku juga tak butuh siapa-siapa. Aku hanya butuh melihat dunia yang damai. Itu saja.
"teeettttt... Waktu menunjukkan pukul 16.00. Para pekerja diharap segera meninggalkan ruangan."
Ah, ternyata sudah waktunya pulang kerja. Aku mimpi apa ya?

Hanya Saja Kita

Rumor tentang adanya orang dermawan yang menyumbang setiap masjid, gereja, wihara, pure, dan tempat ibadah lain telah tersebar luas di penjuru negeri. Dari anak-anak hingga para orang tua membicarakan hal itu. Di warung kopi, di restoran, dan di setiap penjuru negeri, yang dibicarakan adalah betapa dermawannya orang itu.
Tidak hanya tempat ibadah, sekolah-sekolah dan panti asuhan juga menjadi tempat bersedekah orang itu. Orang yang sama. Namanya ada di setiap surat kabar yang terbit. Radio juga sering membicarakan hal yang sama. Tak ketinggalan televisi, sebagai media yang paling dikenal masyarakat saat ini, juga turut mengangkat fakta itu. "Si Dermawan".
Setelah beberapa hari, setiap wartawan dari semua media dan masyarakat mendatangi rumahnya. Mereka mendapatkan alamat orang yang dermawan itu dari sebuah surat yang dikirimkan ke Bapak Presiden.
Setibanya di tempat yang dituju, semua orang heran, tak luput juga bapak Presiden yang ikut hadir bersama masyarakat. Mereka hanya melihat sebuah gubuk reyot di puncak sebuah bukit. Semua orang sontak meragukan hal itu. "apa mungkin orang dermawan yang sering bersedekah itu tinggal di gubuk reyot ini?"
Saat semua orang sedang melagukan keraguan mereka masing-masing, pintu gubuk itu terbuka. Seorang kakek keluar dengan perlahan.
"Tuhan lebih kaya dari kita, dan dia tidak pernah menampakkan kekayaannya pada kita."

Ku Takut Kau Kecewa

Suasana tiba-tiba jadi beku saat Hani mengucapkan kata itu. Dery, yang semenjak tadi masih bisa mengucapkan guyonan, langsung diam.
"Mengapa, Der? Mengapa kau merubah keputusanmu dengan mendadak? Bukankah dulu kau yang merencanakan ini." Dengan nada marah yang tertahan dan tetesan air mata Hani bertanya.
"Jangan permainkan perasaanku. Aku adalah wanita, dan aku manusia."
Dery hanya terdiam mendengar deretan kalimat yang diberikan padanya. Dia tidak bergerak. Hanya tertunduk.
"Katakan padaku, mengapa harus kau tunda rencana pernikahan kita? Apa kau tak mencintaiku lagi?" Hani kembali bertanya.
"Bukan itu alasannya. Aku masih mencintaimu." Dery menawarkan jawaban. Dia memandang ke depan dengan kosong. Matanya sayu.
"Aku, takut."
"Apa kau takut menikahiku?"
"ya, aku takut kau kecewa. keputusan kita terlalu cepat."
Suasana hening itu berbalik menembus hati Hani.
"Kecewa kenapa?"
"Aku, tak bisa bercinta dengan wanita."

Karena Memang Saya!

Pak Marto datang dengan membawa makanan ke rumah Gondo. Pada bulan puasa ini, dia ingin mendapatkan lebih banyak pahala dengan bersedekah. Apalah arti sebungkus nasi dan daging ayam, bagi dia. Untuk membeli motor setiap minggu dengan kontan pun dia mampu.
Sampai di pintu depan rumah Gondo, dia menggelengkan kepala. Betapa rumah itu sudah reyot dan hampir ambruk, pikirnya. Dia mengetuk pintu. Setelah tiga kali ketukan, pintu itu terbuka.
Seseorang yang sudah berusia 50an keluar dengan tongkat di tangannya.
"Gondo, ini aku bawakan kamu makanan untuk buka puasa, nanti." Sapa pak Marto dengan nada yang ramah.
"wuahhh... rejeki nomplok. Terima kasih, pak."
"gimana puasanya, masih penuh kan?"
"Hwahahaha... untuk puasa, aku selalu penuh. Jangan Khawatir."
"memang patut untuk dicontoh..."
"jangan!"
"kenapa?"
"apa anda mampu mencontoh saya?"
"kalau itu baik, kenapa tidak."
"Apa anda mampu untuk tidak makan selama beberapa hari? apa anda mampu utnuk tidak melihat indahnya dunia? apa anda mampu untuk bersabar? Sebetulnya, saya mampu karena saya memang ditakdirkan."

Minggu, 07 Agustus 2011

Sayembara Cerpen 2011


UKM Belistra FKIP Untirta pada tanggal 12 Juli 2011 kemarin mengumumkan adanya sayembara cerpen tingkat mahasiswa. Syarat yang mereka berikan antara lain:
  1. Peserta adalah mahasiswa D3/S1 perguruan tinggi di Indonesia,
  2. Peserta hanya diperbolehkan mengirimkan 1 (satu) naskah cerpen terbaiknya,
  3. Tema bebas,
  4. Naskah cerpen bermuatan eksperimentasi, eksplorasi, dan inovatif, baik tema, visi, maupun teknik penyajian,
  5. Panjang cerpen tidak dibatasi,
  6. Naskah cerpen merupakan karya sendiri, bukan saduran, terjemahan, atau plagiat,
  7. Naskah cerpen belum pernah dipublikasikan di media massa cetak dan atau elektronik, dan tidak sedang diikutkan dalam lomba/sayembara lain,
  8. Naskah cerpen ditik menggunakan huruf Time News Roman, 12 pt, spasi 1.5,
  9. Biodata penulis dilampirkan pada halaman terakhir naskah, dan tidak lebih dari satu halaman,
  10. Lampirkan fotokopi Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) atau surat keterangan lain yang menyatakan bahwa peserta adalah mahasiswa D3/S1,
  11. Naskah cerpen dikirim paling lambat 17 September 2011, pukul 00.00 WIB,
  12. Naskah cerpen dikirim (attach files) ke alamat e-mail: sayembaracerpenbelistra@yahoo.com, cc: ukmbelistra.fkip@yahoo.com,
  13. Naskah cerpen yang dikirim menjadi milik panitia,
  14. Pengumuman pemenang pada minggu ketiga bulan November 2011, di blog: ukmbelistra.blogspot.com,
  15. Dewan juri akan memilih 20 naskah terbaik (jawara I, II, III, dan 17 nominie),
  16. Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.
Hadiah yang ditawarkan cukup menarik. Antara lain:
  • Jawara I uang tunai Rp 1.000.000,- + Sertifikat + Piala
  • Jawara II uang tunai Rp 750.000,- + Sertifikat
  • Jawara III uang tunai Rp 500.000,- + Sertifikat
  • 17 nominie mendapatkan sertifikat

Dewan Juri antara lain: Kurnia Effendi - Raudal Tanjung Banua - Linda Christanty :
Informasi selengkapnya, dapat menghubungi panitia secara langsung.
087774121439 (Tri Megaraesita), 081906494706 (Anom FPA)
Sekretariat
UKM Belistra FKIP Untirta Jl. Raya Jakarta Km. 04, Kampus Untirta, Gedung PKM-2 (Bawah Tangga), Pakupatan, Serang-Banten.

Lomba Kritik Seni

Seperinya dunia kesenian Indonesia berkembang pesat. Buktinya, banyak sekali pementasan yang dilakukan oleh para seniman Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Perkembangan kesenian ini, juga tak luput dari peran para penikmat yang memiliki penilaian kritis terhadap para kreator-nya. Dengan begitu, dinamika berkesenian akan selalu tampak indah.
Kementrian Budaya dan Pariwisata akhir-akhir ini juga menggelar Lomba untuk khalayak umum, dengan Tajuk 'Lomba Kritik Seni 2011'. Diharapkan dengan adanya lomba ini, penikmat seni akan semakin memiliki pandangan kritis terhadap sebuah karya yang dihasilkan.


LOMBA KRITIK SENI 2011

Penjelasan Umum


Lomba kritik seni yang dimaksud adalah:

  • Lomba mengeritik karya seni dalam bentuk tulisan berupa tinjauan logis, etis, artistik dan estetik sehingga terpampang keharmonisan atau kerancuan karya seni menurut referensi yang dijadikan acuan dalam mengeritik.
  • Orientasi kritik dapat melihat suatu obyek (karya seni dari berbagai aspek, misalnya aspek tematik, estetik, dampak sosial, diseminasi manajemen seni, dan lain-lain.

Ketentuan teknis


  1. Lomba ini terbuka untuk umum serta tidak dipungut biaya.
  2. Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu tulisan.
  3. Tulisan menggunakan bahasa Indonesia dengan mengikuti kaidah tata bahasa baku Bahasa Indonesia.
  4. Panjang tulisan tidak dibatasi, menggunakan jenis huruf Arial 12pt, spasi 1,5.
  5. Tulisan dalam bentuk softcopy dikirim kealamat e-mail: lks2011@situseni.com dan di-cc ke e-mail: situseni@yahoo.co.id

Dengan ketentuan penulisan nama file sebagai berikut:

LKS-NamaPeserta-JudulTulisan.

  1. Masa pengiriman tulisan berlangsung dari tanggal 1 juli – 17 Agustus 2011.
  2. Penilaian oleh Dewan Juri dilakukan pada tanggal 18- 31 Agustus 2011
  3. Pengumuman pemenang tanggal September 2011 melalui website www.situseni.com dan e-mail kepada pemenang.


Obyek Kritik


  • Karyaseni yang dapat dijadikan sebagai obyek kritik adalah karya seni dari berbagai media (rupa, sastra, teater, pertunjukan, musik, film) ciptaan seniman Indonesia dalam kurun 5 tahun terakhir.
  • Guna memudahkan identifikasi terhadap obyek (karyaseni) yang dikritik, para peserta harus menyertakan penjelasan rinci identifikasi mengenai karya seni yang dijadikan obyek kritik tersebut. Contoh dapat dilihat dan diunduh di website www.situseni.com

Aspek Penilaian


  1. Orisinalitas.
  2. Ketajaman analisis.
  3. Alternatif solusi yang ditawarkan dalam melahirkan karya seni yang mampu menjadi tontonan sekaligus tuntunan.

Juri dan Hak Cipta


  1. Dewan Juri adalah penulis dan kritikus seni.
  2. Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat
  3. Hak cipta tetap pada penulis. Namun Panitia berhak untuk menggandakan dan mereproduksi untuk keperluan pembuatan buku dan pengembangan ilmu pengetahuan dengan tetap mencantumkan nama penulis.

Penghargaan

Lima tulisan kritik terbaik, masing-masing akan mendapatkan piagam penghargaan dan uang masing-masing sejumlah Rp.10.000.000. (pajak ditanggung pemenang).


Rabu, 13 Juli 2011

Musik Tua

ada kala yang membuang percuma
ada kala yang membuang makna
ada kala yang membuang nista
ada kala yang membuang do'a

ada kala orang-orang berjejal
mendengarkan riuh musik di jalan
menari-nari sambil tertawa
membawa topeng-topeng monyet
dan berlarian kesana kemari

ada kala orang orang terbungkam
menunduk kepala ditopang tangan
karena serak mereka tak lagi di dengar
semua dibawa pergi oleh seringai
seringai seringai yang mencari makan
makan makan keringat kalian

ya,
jangan kau baca tulisan ini
yang bukan puisi orang suci
ini hanya kumpulan diksi
yang belum punya arti
tapi diksi ini tak kan mati!

dengar?
jelas saja kau tak mendengar
alunan itu kau munafik-kan di gendang telinga
rintihan itu kau libas dengan musik ceria
tapi masih ada
ada
ada
ada
ada suara
ada tangis
ada rintihan

masih ada yang menangis karena lapar
masih ada yang menangis karena dikejar hutang
ada yang masih menangis karena rumahnya dihancurkan
ada
ada
ada
ada alunan itu
ada yang belum kita dengar
ada yang selalu hilang
ditelan bisingnya kota
di injak oleh do'a kita!

seng sugih tambah sugih
seng miskin dadi mindring

aduh.. aduh..
ancur!

alunan lama yang semakin tua
semakin tak terdengar...

Para Pejuang


Merah putih itu masih berkibar bertopang pada sebilah bambu yang ditancapkan di tengah halaman. Dua orang terlihat sedang khusyu’ memandangi kain yang dipermainkan oleh angin sore itu. Hari masih terlihat cerah, wajah dua orang di halaman rumah itu garang. Di bahu kanan kirinya mereka membawa sebuah senapan dan sebilah belati. Wajah mereka juga tak luput dari hiasan coreng-moreng hasil usapan arang.
“Hari ini melawan, atau tidak sama sekali!” seseorang dengan wajah yang terlihat lebih lama bergumul dengan hidup berkata. “ya… sekarang atau tidak sama sekali.” Sosok yang terlihat lebih muda menyahut. “sekali berarti, sudah itu mati!” sahut sang ayah.
“ya, sekali berarti sudah itu mati!” si anak menimpali.
“Anakku, jika hari ini adalah hari terakhir kita, jangan kau kecewa karena hal itu. Berbanggalah karena kita diberi kesempatan untuk membela negara kita. negara tercinta”. Si ayah menguatkan hati anaknya.
“membela ideologi kita ayah. Ideologi yang diperjuangkan oleh bung Karno dan bung Hatta. Ideologi yang ada pada sajak-sajak penyair jalanan, dan harapan-harapan yang menghidupkan orang-orang pinggiran”. Si anak menambahkan.
“demi ibu pertiwi, kita habisi para penjajah! Mereka yang mencoba menguras kekayaan negeri ini, mereka yang menindas para warga negaranya, hanya ada satu kata”.
“lawan!” Mereka berdua bersorak.
Di dalam rumah, di balik jendela, seorang wanita paruh baya memandangi mereka dengan rasa was-was. “semoga mereka baik-baik saja”. Wanita itu bergumam. Kemudian dia pergi ke dapur dan mulai menghidupkan kompor, memasak air hangat dan juga bubur kacang hijau kesukaan suami dan anaknya. Dengan memasak, dia akan melepas rasa was-was yang melingkupi dirinya. Wanita itu memilliki keyakinan bahwa memasak akan membawa kebahagian. Memasak dengan sepenuh hati.
Di luar, ayah dan anak itu mulai bergegas untuk pergi ke medan pertempuran. Langkah mereka berat, seakan banyak sekali beban yang merantai kakinya. Sesekali mereka menengok ke belakang. Memperhatikan suasana rumah yang lengang karena hanya tinggal satu orang wanita saja di sana. Akankah mereka akan bertemu lagi? Sempatkah mereka mencicipi masakan wanita di rumah itu, nanti? Tapi, ayah dan anak itu menepis bayangan-bayangan yang datang. Mereka berjalan. Kali ini teguh mereka pegang keyakinannya.
Awan melingkupi matahari, sehingga panas tidak begitu terasa. Sepoi angin juga memantapkan hati untuk terus maju dan melangkah. Burung gereja yang terbang memberi salam hangat dan doa atas keselamatan dua orang itu. Pertempuran menunggu.
Sesampainya di pintu masuk sebuah kebun kopi dan karet, mereka berdua berhenti. Ada dentuman meriam dan letusan bedil yang mereka dengar. “bum…bum…”, “dor…dor…dor…”. Suara-suara itu bersahutan di udara. Tidak ada sela untuk mendengar suara kicauan burung atau gemericik air di sungai. Mungkin saja burung-burung sudah pergi tunggang langgang mendengar teriakan-teriakan meriam dan senapan yang saling bersahutan. Dan bisa saja tembakan dari meriam yang salah mengenai sasaran membuat arus air berubah. Yang pasti, alam di kebun itu tidak lagi indah. Manusia-manusia itu mulai mengacaukan tatanannya.
“anakku, sepertinya medan pertempuran sudah dekat. Apa kau sudah benar-benar siap?” sang ayah memulai pembicaraan. “apa pun yang terjadi, aku akan terus maju bersama ayah”. Dengan wajah tenang yang menampakan hati mereka kuhuh, mereka melangkah.
Sang ayah menyiapkan senapannya. Diberinya peluru untuk melawan musuh. Si anak tidak ketinggalan. Dengan mengendap-endap mereka mendekati sumber suara. Mencari dimana lawan dan dimana kawan.
“ayah, bagaimana jika kita berpencar saja. Aku pergi ke arah utara, dan ayah ke arah selatan”. Si anak memberi keputusan. “baiklah. Saat matahari mulai berubah menjadi jingga, kita berkumpul lagi disini”. Sang ayah memberikan tawaran. “aku setuju ayah”.
Perlahan-lahan mereka mengendap-endap. Bersembunyi di balik pohon karet yang menjulang tinggi, dan getahnya masih saja menetes memberikan tambahan penghasilan pada penduduk sekitar. Dari satu pohon ke pohon yang lain, mereka melangkah semakin menjauh. Berseberangan.
Daun-daun berbisik untuk mengikuti sang ayah. Tulang tua dan batu besar yang berceceran di sepanjang jalan yang ia lalui tak menjadi hambatan. Dengan cekatan ia melompat dari satu batu ke batu yang lain, bersembunyi dari satu pohon ke pohon lain. Seperti seekor kijang, ia bergerak dengan lincah dan indah. Tangan yang kanan memegang senapan. Tangan kiri sesekali menjadi penopang tubuh saat kakinya tergelincir karena lumut yang tumbuh di batu. Tetapi, badannya tetap tegak, dan tak sudi ia untuk mencium tanah yang dia injak.
Di sebuah pohon besar, dia melihat bekas peluru yang mungkin baru saja terlepas dari senapan. Tak luput juga tanah memberitahunya bahwa peluru meriam bersarang di situ. Dia semakin meningkatkan kewaspadaannya. Disebarnya pandangan mata ke seluruh penjuru kebun. Berhati-hati pula ia membuat gerakan. Mata tua tak menghalangi ke-awasan-nya dalam meneliti sekitar. Pandangannya menerobos semak-semak yang rimbun. Diperhatikannya satu per satu tempat yang mungkin dijadikan sebagai tempat bersembunyi musuh. Lamat-lamat terlihat bayangan beberapa orang yang sedang menunduk. Dia tidak ingin gegabah. Diperhatikannya dengan cermat. “apakah mereka penjajah?” dia bertanya dalam hati. Dari bibirnya, dia mengeluarkan suara. Mencoba bersiul, meniru suara burung.
“dor…dor…dor…”
Tembakan membabi buta mengarah padanya. Tetapi alam memang tahu siapa yang harus dijaga. Orang paruh baya itu tidak terkena tembakan. Semua peluru meleset dan bersarang pada pohon di kiri, kanan dan depannya tempat dia bersembunyi. Peluru dia siapkan. Tembakan pun dibalas tembakan. 5 peluru untuk beberapa orang musuh. Dia berhasil mengenainya. Didekatinya perlahan. Didapatinya 3 orang tergeletak ditanah, tak bernyawa. Suara-suara sudah kembali seperti semula. Jangkrik mulai berani keluar dari sarangnya.
Matahari mulai tenggelam. Warna langit telah berubah jingga. Dentuman peluru meriam dan letusan bedil tidak lagi terdengar. Sepertinya pertempuran telah usai. Lelaki itu melangkahkan kakinya meninggalkan tempat pertempuran. Pergi ke tempat dimana dia berjanji akan bertemu dengan anaknya. Langahnya ringan.
Di bawah pohon karet yang cukup tinggi, anaknya telah menunggu. Lelaki paruh baya itu melambaikan tangannya. Bibirnya menggurat senyum lebar. Senyum kemenangan. Anaknya membalas lambaian lelaki itu dengan tangan mengepal dan diangkat ke udara. “Merdeka!” teriaknya. Wajah dua lelaki itu sumringah. Mereka bahagia dengan apa yang baru saja mereka lakukan demi negeri-nya. Suasana temaram menuntun mereka untuk pulang.
Melalui desiran angin, doa seorang wanita memberkahi mereka berdua.
*****
“Adiii... Adi!” suara yang cukup lantang terdengar dari luar ruangan. Seorang remaja di kamar itu masih saja tertidur di atas kasur. Sarung yang dia pakai untuk menyelimuti tidurnya mulai kumal. Padahal cuaca sedang panas di luar rumah. Kendaraan saling berebut untuk mendahului satu sama lain. Asap knalpot dan debu di jalan juga menambah pikuk kota Jember semakin tidak menyenangkan.
“duk.. duk..” Seorang wanita paruh baya terlihat berjalan dengan jengkel, sehingga pijakan kakinya menimbulkan suara. “Brak!” suara pintu kamar yang dibanting perempuan itu tidak memberikan pengaruh terhadap Adi. Dengan penuh rasa jengkel, gayung berisi air yang dia pegang ditumpahkan. “byurr..!” air tumpah di kepala Adi. Dia terkejut dengan air yang tanpa ia duga mendarat di wajahnya.
“cepat bangun anak malas. Beh, dari tadi dibiarkan, mak tambah enak-enakan tidur. Ayo cepet, bantu ibuk masak. Catering ini harus dikirim sebelum jam 5 sore. Jangan cuma enak-enakan tidur”. Semprot wanita itu.
“ibu, masa aku harus ikut memasak juga?” Adi menimpali ibunya. Kemudian, dengan wajah yang agak ogah-ogahan Adi duduk. “aku ini kan, seorang pejuang!”

Ebhi Yunus
Jember, 21 Juni 2011